Berita Terbaru
-
Rabu, 22/02/2012 15:08 WIB
'Bos Belia' Vendor Teknologi Menjamur di Silicon Valley -
Rabu, 22/02/2012 13:22 WIB
Bebas Sementara, Pendiri Megaupload Urus Istri Hamil -
Rabu, 22/02/2012 12:12 WIB
Pengguna Facebook Kian Sadar Privasi -
Rabu, 22/02/2012 11:14 WIB
Flickr Siap Pamerkan Desain Baru -
Rabu, 22/02/2012 10:46 WIB
Wah! Pria Ini Rela Dijepit Demi 1.000 Retweet -
Rabu, 22/02/2012 07:35 WIB
Ditipu Teman Kencan Online, Wanita Tekor Rp 271 Juta
Indeks Berita
Forum I-Net
Thread Pilihan

Rabu, 22/02/2012 14:55 WIB
Erik Meijer Tinggalkan Bakrie Telecom?
Posted : radydjencolePro Kontra
- PRO Penos Budai ″sangat pantas untuk yg banyak uang, harga \'mahal\' mengandung arti: \"iphone utk kelas premium\" tdk perlu dipertanyakan fiturnya, tetapi.. ″
- KONTRA Ridwan Fauzi ″Buat gue dengan harga 7jtan terlalu mahal, mending galaxy note dong 6jtan tp lebih banyak kelebihannya daripada iphone 4s, secara galaxy note HH gue... ″
28%
72%
Selengkapnya
Kolom Fanabis
Dilema Seorang Buzzer di Twitter
Penulis: Karmin Winarta - detikinet
ilustrasi (inet)

Fenomena ini cukup menimbulkan kelucuan sekaligus keprihatinan. karena ingin mempunyai follower yang banyak, beberapa tweeple 'pemula' sering melakukan hal-hal lucu, minta folbek. Bahkan ada sebuah akun yang dengan terang-terangan menjual follower. Dengan jumlah rupiah tertentu kita bisa membeli sejumlah follower. Hal ini membuktikan, orang-orang tersebut belum seutuhnya memahami bagaimana memanfaatkan medium twitter ini.
Bagi sebagian orang yang memang sudah mempunyai networking luas, bisa dipastikan semua teman realnya sebelum ada twitter akan saling follow. Orang yang punya background banyak teman, kemungkinan besar akan juga mempunyai follower yang banyak juga. kemungkinan besar untuk menjadi buzzer akan semakin besar.
Beberapa yang lain melejit followernya karena moment. misalnya seorang wartawan atau pemerhati bola. Begitu ada peristiwa kemelut di PSSI, karena ia paham permasalahannya ia ngetwit hal-hal yang (mungkin) belum diketahui khalayak. Beramai-ramailah orang me-retweet lalu orang-orang itu pun mem-follow-nya untuk mengikuti secara langsung kicauannya.
Konon batas psikologis jumlah follower seorang layak menjadi buzzer minimal 3000. Namun belum tentu juga seorang tweeple yang mempunyai jumlah follower sebanyak itu "layak" mengkampanyekan produk, menciptakan konversasi untuk mencapai engagement, karena ada hal penting yang harus mereka kuasai yakni memahami mediumnya yang hanya 140 karakter sehingga bisa berkomunikasi dengan "audien-nya secara efektif.
Namun begitu follower seseorang melonjak tajam mencapai ratusan ribu, perlu strategi baru untuk para selebtwit tersebut. Ketika jumlah follower sudah mencapai ratusan ribu, dia pasti akan kewalahan untuk berkomunikasi atau merespon semua follower yang me-mention-nya. jika tidak dilakukan, follower akan merasa terabaikan. Sehingga tweeple dengan jumlah follower tersebut sudah tidak cocok lagi untuk tujuan engagement dengan audience.
Selain itu buzzer dengan jumlah follower ratusan ribu tersebut akan merasa tidak bebas mengomentari sebuah produk di twitter. Karena bagaimanapun caranya ia ngetwit, para follower akan mencurigai twitnya sebagai twit berbayar. (Dugaan ini mungkin berlebihan, karena beberapa tweeple malah ada yang belum tahu apa itu twit berbayar)
Dan buzzer dengan jumlah follower ratusan ribu pasti bayaran yang lebih mahal. Memang sampai sekarang belum ada penelitian yang menyuguhkan data, mana yang lebih efektif memakai satu orang buzzer yang jumlah followernya ratusan ribu atau beberapa buzzer yang jumlah followernya biasa-biasa saja.
Yang pasti, untuk setiap buzzer belum tentu cocok dipakai untuk kampanye semua produk. Andai dipaksakan kampanye akan terasa kaku, garing dan terasa dipaksakan. untuk itu terus perlu dicari buzzer-buzzer baru yang sesuai dengan produknya sehingga konversasi di twitter berjalan mulus, follower tidak merasa sedang digiring pada image yang berkaitan dengan produk tertentu. karena begitu kampanye produk diketahui, konversasi (mungkin) akan mati.
Untuk itu perlu juga selalu menyiapkan strategi baru, karena strategi yang lama, yang sudah pernah dipakai dan diketahui publik, kemungkinan besar tidak akan sesukses kampanye sebelumnya.
![]() |
Tentang Penulis: Karmin Winarta adalah seorang blogger. Ia bisa dihubungi di fanabis.blogdetik.com atau melalui akun @fanabis di Twitter. |
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga :
Berita Terpopuler
- Rabu, 22/02/2012 13:01
Erik Meijer Tinggalkan Bakrie Telecom? - Rabu, 22/02/2012 15:57
Erik Meijer: Wong Londo yang Diperebutkan Industri Telko - Rabu, 22/02/2012 12:56
iPad 3 Lebih Tebal dari iPad 2? - Rabu, 22/02/2012 14:14
Erik Meijer Hijrah ke Axis? - Kamis, 16/02/2012 10:13
Dahlan Iskan Rombak Direksi Telkom & Telkomsel April 2012
Komentar Terpopuler
- Selasa, 21/02/2012 15:30 WIB
RIM: Buat Apa Bangun Server BlackBerry di Indonesia? - Kamis, 16/02/2012 17:41 WIB
Membuat iPhone Jadi Gadget Tahan Banting - Kamis, 16/02/2012 14:47 WIB
iPhone 4S Laris, Indonesia Bisa 'Naik Kelas' di Mata Apple - Selasa, 21/02/2012 17:55 WIB
RIM: BlackBerry Masih Nomor 1 di Indonesia - Kamis, 16/02/2012 07:48 WIB
iPhone 4S Laris di Indonesia
Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Rekomendasi Artikel
- 7 Pasangan Mesum Terjaring Razia Gabungan TNI-Polri di Depok
- Protes Pemberitaan Soal PD, 9 Politisi Demokrat Lapor ke KPI









Sending your message


---125x125.gif)
